TANGGAMUS — Perjalanan mengurai skandal Korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMP Negeri 1 Wonosobo, Tanggamus, dihadapkan dengan sikap sang kepala sekolah yang penuh lika-liku drama kolosal ibarat episode sinetron yang penuh dengan intrik dan menguras emosi. Jika ada nominasi dalam menentukan juaranya, sudah sangat jelas siapa yang akan memegang gelar ‘Ratu Drama’ se Kabupaten Tanggamus sepanjang masa.
Setelah kasus dugaan Korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2025 SMP Negeri 1 Wonosobo, menguap kepermukaan, terlebih dengan potensi nilai kerugian didalamnya yang mencapai Rp519.125.300, berkali-kali awak media coba sambangi satuan pendidikan itu untuk melakukan konfirmasi dengan kepala sekolah, namun batang hidung yang bersangkutan tak kunjung kelihatan. Bahkan staff maupun dewan guru disana mengaku tidak mengetahui keberadaan sang kepala sekolah. Setiap upaya konfirmasi yang coba dilakukan selalu menemui jalan buntu.
Hanya melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp, Kepala SMP Negeri 1 Wonosobo, menyampaikan bahwa dirinya sedang fokus membereskan pekerjaan sekolah terkait siswa yang akan meneruskan jenjang pendidikan. Bahkan dalam pesannya itu, sang kepala sekolah merasa enggan memberikan klarifikasi secara tertulis.
”Saya masih fokus untuk bereskan kerjaan yg sedang dateline bang.. Urusan anak anak yang mau sekolah ke jenjang selanjutnya agar lancar. Konfirmasi tertulis rasanya kurang etis. Jujur saya sangat sedih membaca tulisan seperti ini..” tulisnya dalam pesan WhatsApp lengkap dengan emoticon sedih diakhir kalimat.
Jawaban Kepala SMP Negeri 1 Wonosobo itu sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang selalu menghindar dari awak media ketika akan dikonfirmasi. Kondisi demikian itu seperti sinetron di layar kaca yang penuh drama, intrik dan polemik tiada akhir.
Yang lebih mengejutkan, dalam pesan singkat lainnya yang dikirimkan oleh kepala sekolah tersebut, dirinya menyayangkan batalnya pertemuan yang sebelumnya berulang kali diundur sendiri olehnya. Lalu kembali ia menyampaikan jika komunikasi secara tertulis kurang etis.
Lalu tanpa tedeng aling-aling sang kepala sekolah itu mengklaim jika nominal yang termaktub dalam pemberitaan media soal dugaan Korupsi dana BOS SMP Negeri 1 Wonosobo tidak benar, bahkan disebutkan jika narasi Korupsi tidak berdasar.
Bkan dengan sesumbar sang kepala sekolah itu mengklaim pihaknya merealisasikan anggaran dana BOS sesuai arkas pada pos masing-masing mengikuti juknis dan arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tanggamus.
”Nominalnya yg ditulis tidak benar. Narasi korupsi juga tidak benar dan berdasar. Kami membelanjakan semua dana sesuai arkas pada pos pos masing masing mengikuti juknis dan arahan dinas pendidikan. Laporan juga sesuai juknis. Tidak ada yang perlu saya khawatirkan terkait hal tersebut karena kami melaksanakan amanat tersebut,” tulisnya dalam pesan WhatsApp.
Manyikapi hal tersebut, Koordinator GRAK Lampung, Chaidir, mengaku sempat enggan berkomentar dan malas meladeni sikap Kepala SMP Negeri 1 Wonosobo yang dianggap tidak konsisten dan selalu berubah-ubah.
”Sepertinya ada yang harus diperiksa kesehatannya terlebih dahulu, karena antara ucapan dan sikap yang ditunjukan tidak pernah sinkron dan saling bertolak belakang. Dia menolak menyampaikan kebenaran namun sudah mengklaim kebenaran. Bicara soal etika tapi menunjukan sikap tidak beretika. Ada beberapa kondisi dimana setiap individu tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan hukum. Seharusnya anda paham sebabnya,” ujar Chaidir singkat. (Redaksi)
Lika-Liku Sang ‘Ratu Drama’ Babak Baru Skandal Korupsi BOS SMPN 1 Wonosobo
